Tiga Tahun Gempa Nias

Hari Ini Jumat 28 Desember 2008 merupakan hari peringatan tiga tahun gempa Nias.  Masih terbayang dalam pikiran saya bagaimana suasana ketika itu, Tiga tahun yang lalu saya tiba di Nias tidak sampai 24 jam dari kejadian gempa itu (gempa terjadi malam hari menjelang pukul 24.00 yang juga menggetarkan kota Medan). Saya tiba di Bandara BINAKA di Nias dengan menumpang pesawat Cassa 212 milik TNI AU kemudian dilanjutkan dengan penerbangan menggunakan helikopter superpuma milik TNI AU yang mengantarkan saya bersama team  Rumah Sakit Adam Malik Medan dibawah pimpinan dr Soejat Harto ,SpAn  ke Lapangan  sepak bola di Jalan Pelita Gunung Sitoli yang dikenal dengan Lapangan Pelita. selanjutnya Lapangan pelita ini dijadikan sebagai Helipad alias tempat pendaratan Helikopter ketika itu, karena Jalan maupun jembatan dari Binaka ke Gunung Sitoli yang merupakan Ibukota Kabupaten Nias Hancur akibat Gempa. Bukan itu saja, akses Gunung Sitoli ke Pelabuhan laut yang dikenal dengan Pelabuhan Angin Lumpuh total akibat seluruh tiang listrik PLN Ambruk ke Jalan sehingga Kota Gunung Sitoli mutlak terisolir. Bahkan landasan di Bandara Binaka retak-retak sehingga tidak ada penerbangan sipil menuju Nias. Sementara di Bandara Binaka banyak wartawan yang ingin menuju Gunung Sitoli tapi tidak ada kenderaan, saya juga melihat seorang reporter TVRI yang bertubuh gemuk (belakangan saya tahu namanya Rukmini) sedang asik bernegosiasi dengan penduduk lokal yang memiliki sepeda motor untuk mengantarkannya ke Gunung Sitoli. Bahkan reporter TVRI tersebut menawar dengan ongkos yang sangat mahal, namun penduduk tersebut menolak karena sulitnya akses ke Gunung Sitoli. Beruntung saya ketika itu  datang Helikopter Superpuma yang baru saja mengantarkan Gubernur Sumatera Utara (ketika itu Bapak Alm. T Rizal Nurdin) dan saat itu dr Soejat melakukan negosiasi dengan Pilot heli tersebut sehingga pilot tersebut bersedia mengantarkan kami ke Gunung Sitoli. Disamping team Brigade Siaga Bencana (BSB) Rumah sakit Adam Malik  Medan dimana saya bergabung turut dalam penerbangan helikopter tersebut seorang reporter TV7.
Helikopter yang mengantarkan kami pun mendarat di Lapangan Sepak Bola Jl Pelita Gunung Sitoli, setelah menurunkan muatannya berupa obat-obatan dan generator set (Genset )kecil (ketika itu kami membawa 2 genset yaitu genset kecil dan besar dimana genset besar ditinggalkan di Binaka karena tidak mungkin dibawa dengan Heli), juga kami membawa peralatan radio komunikasi SSB serta Very High Frequency (VHF). Setelah barang diturunkan dari heli, heli pun pergi meninggalkan kami, sementara di lapangan Pelita banyak penduduk panik, luka-luka yang tidur beratapkan langit akibat runtuhnya rumah mereka. Mereka trauma dengan rumah dan atap. Tidak ada angkutan yang mengantarkan kami ke target semula yaitu Rumah sakit Umum Gunung Sitoli, bahkan ketika kami berusaha meminta bantuan untuk mengantarkan kami ke rumah sakit, tak satupun yang bersedia walaupun kami telah meminta bantuan kepada orang dengan kendraan plat merah yang nota bene milik pemerintah. Kami memang memaklumi karena suasana ketika itu sangat panik. Beruntung ketika itu datang seorang bapak tua yang bertanya kepada kami, siapa kami. Sang Bapak tua kemudian menawarkan untuk tinggal di rumahnya yang terbuat dari kayu dan tidak rusak dan anak-anaknya akan membantu membawa peralatan kami ke rumahnya. Sekelompok pemuda Nias dengan sepeda motor menjemput kami atas perintah Pak tua tersebut. Belakangan kami tahu bahwa pak tua tersebut  adalah seorang Pendeta. Kelompok pemuda tersebut mengantarkan kami ke sebuah Gereja persiapan yang bernama gereja Deninger yang berlokasi di Jalan Diponegoro disamping  Pompa besin Pertamina satu-satunya pada saat itu.   
Gereja tersebut berubah menjadi Rumah Sakit Semua orang berdatangan membawa keluarganya yang luka berat bahkan hingga mayat pun diantar ke Gereja tersebut. Sementara itu saya dan seorang teman sibuk mempersiapkan peralatan radio komunikasi Single Side Band (SSB) untuk berkomunikasi ke Medan menyampaikan berita obat apa saja yang dibutuhkan.  Sialnya ..  Radio SSB ICOM IC 745 yang kami bawa pada saat itu rusak dan sebelumnya tidak diuji setelah dikembalikan oleh team rumah sakit Dr Sutomo Surabaya ketika meng akhiri misinya di Aceh.  Saya mulai dijangkiti kepanikan, karena tidak ada sarana komunikasi apapun ke Medan. Hanya satu harapan saya ketika  itu yaitu meminjam radio SSB dari Pemkab Nias dan hari pun mulai malam tanpa penerangan, sementara suasana didepan gereja ada rumah makan yang rubuh dan ada korban jiwa tertimbun didalamnya. Teriakan korban tersebut meminta tolong sangat memilukan.  Saya dan seorang polisi mencoba masuk ke reruntuhan tetapi jika saya masuk resikonya saya akan tertimbun juga bersama korban. Itu dibutuhkan alat berat.  Sekelompok tentara memperingatkan saya untuk tidak masuk kedalam reruntuhan.  Hari sudah gelap, kepastian komunikasi belum diperoleh, saat itu saya meminta bantuan Bapak Pendeta untuk mengantarkan saya ke kantor Bupati, apa yang terjadi …, di Kantor Bupati terjadi penjarahan kemudian saya meminta bantuan lagi mengantarkan saya ke dekat pendopo yang saya ingat pada tahun 2001 ketika terjadi Banjir di Lahusa, tempat ini di jadikan Pos komunikasi dan berharap masih ada peralatan radio komunikasi disana. Tetapi malam gelap gulita tanpa ada penerangan sedikitpun, dari tempat itu terlihat oleh saya cahaya dari sebuah gedung, sayapun mencoba mendekatinya. ternyata adalah kantor Telkom dan malam itu telepon di kantor ini tidak putus, saya meminjam telepon untuk menghubungi kawan pengurus ORARI di Medan untuk mengirimkan saya Radio SSB. Seorang teman pengurus ORARI tersebut menyaranjkan ke saya mencari tower antena yang tinggi karena pernah ada orang dari Nias bisa men akses Repeater ORARI di Hutaginjang Tapanuli Utara karena saya memberitahukan saat itu saya juga membawa radio VHF serta antena portable yagi.
Malam itu kami lalui tanpa penerangan listrik walaupun kami saat itu membawa genset tidak kami gunakan karena bahan bakarnya sangat terbatas dan sulit memperoleh bahan bakar pada saat itu. Untuk nya seorang teman dengan rapi membungkus genset tersebut saat dibawa hingga tidak tercium bahwa genset tersebut terisi BBM dari Medan, karena pada aturan penerbangan dilarang membawa genset yang berisi minyak. Ketika Pagi hari saya berusaha mengikuti saran teman di Medan untuk mencari tower yang cukup tinggi, saya minta Pak Pendeta untuk mengantarkan saya, tetapi Pak Pendeta menolak karena bahan bakar di sepeda motornya hampir habis, sulit memperoleh bahan bakar pada saat itu. Saya coba minta bantuan kepada salah seorang polisi, Syukur Alhamdulillah Pak Polisi bersedia mengantarkan saya mencari tower. Saya melihat tower TVRI di Gunung sitoli dan memutuskan untuk menggunakannya saya coba  menaiki bukit dimana tower itu berada dan saya minta izin kepada kepala pemancar untuk menguunakan tower tersebut.  Dihalaman pemancar dipadati pengungsi yang belum makan sejak gempa terjadi. Pengungsi meminta sedikit makanan dari saya,  pada saat itu saya mengatakan ke pengungsi bahwa saya juga belum makan dari kemarin. Apakah saya berkata bohong kepada mereka ? Tentu saja tidak, siapa sampai hati melihat orang yang begitu pucat kelaparan. Dan saya beserta team rumah sakit juga belum makan, karena kami tidak membawa bahan makana sedikit pun. Hal ini disebabkan pesawat Over load sehingga bahan makanan diturunkan dan akan diangkut pada pesawat berikutnya. Tetapi pesawat berikutnya tersebut tidak kunjung berangkat. Ketika saya kembali ke gereja, team memutuskan untuk pindah POSKO ke Desa Mudik yang sudah agak dekat kerumah sakit dan POSKO ditempatkan di Mesjid agung sementara saya melihat kawan-kawan dari Remaja Mesjid Agung dengan memakai Jubah sibuk membantu mengangkut peralatan kami dari Gereja Deninger ke Mesjid Agung tersebut. Saya meminta bantuan ke teman-teman untuk mengantarkan Genset ke pemancar TVRI karena tidak ada Listrik disitu dan akan saya gunakan sebagai catu daya radio VHF saya untuk berkomunikasi ke Medan. Pak dr Soejat beserta teman Pak Rangkuti juga mengunjungi Pemancar TVRI dan saya bersama kepala stasiun tersebut Pak Junaidi Telaumbanua memanjat tower tersebut dan mencoba mendapatkan arah ke Hutaginjang. Syukur Alhamdulillah ternyata saya bersama Pak Junaedi berhasil mendapatkan arah dn kami bisa berkomunikasi ke Medan dengan radio Very High Frequency (VHF). Saya kembali meminjam telepon di PT Telkom untuk menghubungi Kepala Kantor SAR di Medan Bapak Dianta Bangun memberitahukan frekuensi radio ke Gunung Sitoli serta waktu on air kami mengingat keterbatasan bahan bakar. saya harus mondar-mandir dari POSKO di Mesjid Agung Desa Mudik ke Pemancar TVRI untuk menyampaikan pesan ke Medan sesuai dengan jadwal yang saya berikan ke Medan. Hari ke 4 Team dari MER-C dibawah pimpinan dr Faisal tiba di desa Mudik dan dengan kenderaannya kami pindah ke Rumah Sakit Umum Gunung Sitoli sesuai target semula. Setiap hari masih Nias masih saja digoyang gempa cukup kuat saat itu, Mesjid Agung yang seluruh dindingnya retak parah masih digunakan untuk shalat, bahkan pernah suatu ketika dilakukan shalat subuh juga terjadi gempa, dan imam tetap meneruskan rakaatnya.
Mesjid Agung yang dulunya berbentuk ornamen Jawa yang merupakan ciri khas dari Mesjid Bantuan Muslim Pancasila kini sudah berudah dengan bentuk yang baru berkan bantuan NGO MERCY dari Malaysia, dulunya dibelakang Mesjid ini adapesantren Putri Ummi Kalsum kini pesantren tersebut telah pindah beberapa ratus meter dari mesjid Agung. Gereja  Deninger kini sudah dibangun tetapi memakai bahan dari Kayu.  Dulu Bangunan Bank Rakyat Indonesia (BRI) hancur total kini sudah berdiri Megah, sementara mesjid didepan BRI tersebut yang rubuh (dulunya mesjid besar yang megah-namun hancur akibat gempa) menyisakan sebuah mesjid sederhana dari kayu beratapkan seng. Hotel Wisata yang terletak didepan pendopo masih belum berdiri.

Sayapun saat ini baru bergabung di Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional atau International Federation of Red Cross and Red  Crescent Societies (IFRC) di Nias sebagai IT and Telecom Officer setelah Resign dari International NGO yang bernama Caritas Switzerland di Aceh Singkil.

Ya,ahowu Tano Niha

Zulkarman Syafrin
d/a International Federation of Red Cross and Red Crescent Societies (IFRC)
Jl. Patimura No. 3
Desa Mudik
Gunung Sitoli
Nias



Leave a Comment