Archive for November, 2008

Selamat Datang Website Instant

Sungguh bahagia hidup di zaman instant seperti sekarang ini, mulai dari mie instant sampa segala-gala yang instant lainnya. Saya masih ingat ketika saya pertama kali mengenal produk instant sebut sajalah namanya mie instant. Produk mie instant saya kenal pertama kali ketika saya bertandang ke tempat teman saya. Kejadiannya ketika itu saya masih kanak-kanak tentunya. Ketika itu sang teman saya yang bocah itu hanya dengan memasak air panas dan mengeluarkan mie isntand dengan atribut nya jadilah mie yang beraroma cukup menggiurkan selanjutnya menghidangkannya kepada saya sehingga kamipun menikmatinya bersama-sama. Kala itu, saya ingat betapa susahnya ibu saya membuat mie rebus dengan memasaknya hampir atau bahkan lebih dari satu jam dan dengan bumbu-bumbu yang tidak bisa saya mengerti itu. Sementara teman saya yang bocah itu, hanya memasaknya kurang dari 5 menit, sungguh luar biasa mie instant itu. Mengapa saya mengenal produk instant justru di rumah tetangga saya ? Bukannya di rumah sendiri ? Itu terjadi karena ibu saya, kurang atau bahkan tidak dapat menerima produk instant, Ibu saya yang dikenal jago masak itu hanya percaya pada kemapuannya sendiri dalam seni mengolah makanan. Sifat seperti ini mungkin menurun kepada saya yang awalnya kurang menerima produk instant.

Berbicara soal Instant saya juga ingat dengan salah seorang teman baik saya ketika masih bekerja di NGO Caritas Switzerland, hanya dengan berkenalan 3 hari dengan seorang perempuan (maaf saya tidak tahu menulis mana yang lebih baik antara perempuan dan wanita) dia sudah langsung melaksanakan pernikahan, sementara ada teman saya yang lain sudah pacaran 5 tahun belum nikah juga. Begitu instant bukan, rupanya instant juga tidak hanya pada urusan mie saja..

Dalam percaturan dunia perinternetan, juga terkena wabah instant ini.Contohnya saja dalam hal pembuatan website.Ketika masih banyak web statik, yang dibuat dengan bahasa pemrograman seperti C juga ditambah PERL dilanjutkan dengan skrip Hyper Text markup language (HTML), seorang teman harus merelakan waktu istirahat tidur malamnya hanya untuk melakukan updating situs sebuah surat kabar harian di Medan, terkadang hingga pagi belum juga selesai updating berita online nya. Untuk melakukan updating teman saya tersebut paling tidak atau wajib hukumnya menguasai bahasa script HTML atau supaya lebih menarik ditambah java script.

Apa yang terjadi saat ini ? Dengan kehadiran software CMS (Content Management System) seperti Mambo yang diteruskan ke Joomla atau Wordpress, updating situs tidak perlu dilakukan berjam-jam dan bahkan tidak memerlukan keahlian dalam menulis skrip HTML ataupun Cascading Style Sheet (CSS), jangankan mengetahui perintah-perintah TAG dari HTML maupun CSS, mengetahui nama HTML sajajelas nggak perlu.

Seseorang dapat langsung melakukan updating dengan meng upload text file atau mengetikkannya tanpa harus tahu perintah HTML.Dunia Blog pun menjamur, seseorang juga bias menulis di website untuk menyalurkan hobbynya menulis yang mungkin tidak tertampung di media lain seperti suratkabar atau majalah. Demikian juga dengan saya, bebas ngomel-ngomel dan ngoceh panjang lebar di blog ini hanya dengan menulis kata-kata tanpa perlu memikirkan disain atau skripnya.

Apa jadinya media online seperti detik.com tanpa kehadiran CMS, media online seperti detik.com yang menuntut update dalam orde menit. Pasti kelabakan itu web masternya. Dengan adanya CMS sang wartawan bias langsung meng update beritanya ke website, itu bias dilakukan langsung dari lapangan, bias melalui telepon selluler seperti yang saya lakukan ketika cuti untuk mengontrol server di kantor di Gunung Sitoli Nias.

Sang webmaster hanya mendisain template webnya saja, sementara isinya atau content nya diserahkan ke masing-masing user yang diberi wewenamg untuk melakukan update seperti wartawan.

Yang lebih menarik adalah pada umumnya software CMS ini adalah open source dan shareware bahkan freeware sehingga tidak perlu membayar untuk meng installnya seperti Joomla dan Wordpress. Bahkan distro Linux seperti Fedora telah memasukkan Wordpress pada CD installer nya sehingga para pecinta Fedora Core tidak perlu repot-repot men-downloadnya.

Apakah hal ini akan mengancam profesi para webmaster dengan kehadiran CMS yang gratis tis tis dan mudah itu ? Jawabannya bias yabias juga tidak.

Para webmaster professional harus memutar otaknya mencari innovasi baru yang mungkin tidak dapat dilakukan oleh CMS ini,

Saya ingat ketika salah satu website pemerintah daerah diluncurkan (kali ini saya nggak mau menyebut namanya – soalnya sensitive) website itu dibuat dengan anggaran cukup tinggi dan menggiurkan, website selai dan terpajang dengan indahnya. Ketika saya coba menbuka skripnya ternyata sang web master lupa membuang identitas Joomla yang melekat pada skrip itu.Saya pun tertawa dan dalam hati mengucapkan selamat atas keberuntungan sang perusahaan pembuat situs yang mahal itu tapi dikerjakan dengan software CMS gratis Joomla.

Dibalik kemudahan CMS ini ada orang dibelakang layer yaitu system administrator yang harus meng install software tersebut di server tempat web akan di hosting.

Untuk melakukan instalasi software Joomla itu paling tidak system administrator harus menginstall Webserver seperti Apache, juga prehyper text seperti PHP berikut libraryzlibnya, atau XML nya juga diharuskan menginstall Database server seperti Mysql.

Kita juga harus menghormati kerja keras para system administrator ini yang membuatnya makan hanya 3 kali sehari dari tidur paling tidak 8 jam sehari demi mengkonfigurasi CMS ini agar dapat berjalan di Web servernya sehingga dapat digunan oleh usernya terutama oleh Bloger kecil-kecilan seperti saya sekarang ini. Tapi saya yakin, jika pada saat presiden Sukarno dulu hidup dan berkuasa sudah ada CMS, Pastilah presiden Sukarno adalah seorang bloger sehingga presiden Sukarno tanpa harus susah-susah menulis buku Sarinah, Dibawah bendera revolusi atau bahkan Konsep-konsep Marhaen nya,Beliau cukup membuat blog yang akan dibaca oleh rakyat dan lawan-lawan politiknya.

Rupanya tidak hanya CMS aja yang instant, skrip-skrip website instant juga bertebaran di Internet, sehingga banyak blog atau web semacam friendster tampil begitu indah dan menariknya hanya dengan “copy” dan kemudian “paste”, Pernah suatu ketika saya bertanya pada pelaku instant ini, apakah dia mengerti apa maksudnya perintah yang dia lakukan itu, ternyata sang pelaku tersebut mengatakan dia tidak mengerti apa maksud perintah tersebut. Kita bias berpikir sebenarnya ini bias sebagai pisau bermata dua, bias membuat orang pintar dengan mempelajari maksud skrip tersebut dan bias juga membuat orang malas karena cukup gampang dan bias mencari skrip lain.

Masih perlukah kita mempelajari HTML atau CSS jika semuanya sudah instant ?

Menurut saya masih perlu, karena tidak semua web hosting menyediakan fasilitas CMS terutama untuk Web hosting gratisan. Mungkin pada system administratornya berpikir mana ada yang gratis tapi enak. Jadi untuk kasus seperti ini para webmaster yang memiliki ilmu HTML dan CSS bias berbangga hati .

Selamat Berkarya dan tetap semangat.

Salam dari Gunung Sitoli Nias

Ya’ahowu

LINUX

Sebagaimana janji saya pada celotehan sebelumnya atau celoteh yang muncul setelah celotehan ini, saya akan berceloteh tentang Linux.

Seperti yang saya katakansebelum ini, sebenarnya sbelum mengenal Linux saya sudah mengenal Operating system bernama Unix ketika bekerja di sebuah perusahaan Komputer di bilangan Senen Jakarta . ( duuuh pake malu-malu segala, Bilang aja PT Pantja Indohitech Komputer di Jalan Kramat Raya No. 94 -96 Gedung Pantja Niaga (CTC Building) Jakarta Pusat .. gitu beres ‘kan.)

Ada beberapa keluarga Unix yang proprietary (maksudnya hanya bisa running dan di disain pada mesin tertentu) seperti HP-UX untuk Mesin Hewlett Packard,ULTRIX yang running padaDEC (Digital Equipment Corporation), AIX untuk mesinIBM RISC 6000, Solaris untuk Mesin Sun Microsystem, Domain/X untuk Apple computer.

Sebenarnya UNIX ini merupakan system operasi yang pertama kali dikembangkan oleh AT and T Bell Laboratorium.

Dahulu, yang saya suka dari operating system ini adalah kemampuan multi taskingnya dan kemampuan multi user nya, Ada operating system yang multi user tapi kemampuan multi taskingnya diragukan.

Sebagai contoh pada SCO Unix (dari Santa Cruz Operating System) yang merupakan variant dari Unix yang tidak proprietary dan bias running pada PC (Personal Computer), saat kita melakukan pencetakan pada printer, sebelum pencetakan selesai kita bias melakukan format disket pada mesin yang sama tanpa harus menunggu hasil cetakan selesai dan juga melakukan tugas lain pada satu mesin yang sama.

Ini sangat berbeda dengan operating system yang lain yang hanya dapat melakukan tugas lain jika tugas yang sebelumny selesai terlebih dahulu. Walaupun operating system itu multiuser. Jadi Unix itu multi user sekaligus multi tasking.

Lhaa … katanya mau ngomongin Linux kok malah ngomongin Unix.

Sabar dooong..,

Linux itu merupakan Varian dari Unix, semua perintah command line di Unix itu dapat berjalan di Linux dan sifat-sifat Linux itu juga mengikuti sifat induknya Unix itu.

Lhooo kok namanya Linux ….?

Linux itu diambil dari nama pencetusnya kernelnyayaitu Linus Torvald seorang pemuda Findlandia yang lahir tanggal 28 Desember 1969. Sedangkan Kernel Linux dia buat tahun 1991.Naahh benar saya bilang bukan ?Sebelum Linux selesai dibuat(masih kernelnya) saya sudah mengenal UNIX dan XENIX, Karena saya sudah menjadi engineer untuk Mesin Altos yang memiliki operating system Unix yang proprietary pada mesin itu.

Tadi saya tidak mengatakan kalau Linux itu dibuat oleh Linus Torvald, yang saya katakana kernelnya yang dibuat oleh Linus, nanti saya akan ditempeleng sama si Brewok Richard Stallman. Richard Stallman ini dua tahun yang lalu pernah mengunjungi Jakarta.

Siapa Richard Stallman, kok namanya tidak sepopuler Obama yang baru memenangkan lotere undian eh salah baru memenangkan pemilu di Amerika Serikat.

Richard Stallmand yang umurnya lebih tua 16 tahun dari Linus torvald (Richard lahir 16 Maret 1953) juga memegang andil mengembangkan Linux ini dan pada tahun 1983 dia membuat suatu system yang bernama GNU. GNU itu merupakan singkatan dari GNU’s Not Unix , jadi tetap berulang dan GNU itu dilafalkan seperti genyu, Kok … Singkatannya gitu .., Sableng nggak tuuh namanya. . Memang orang IT ini aneh-aneh ya …? He he he .. yang nulis ini juga masih orang IT di IFRC Gunung Sitoli mudah-mudahan tidak di stempel sebagai orang aneh dan sableng

Lha .. katanya Linux keluarga Unix , tapi mengapa GNU itu GNU’s Not Unix ?

Saya mengatakan keluarga Unix karena semua perintah Unix bias dikenali di Linux .. itu saja lain tidak .. huu uuuh .. kalau kalian mau tahu Tanya laah sama si Richard Stalmann saya nggak mau ikutan..

Linux itu sendiri memiliki GPL (General Public License) jadi lisensinya umum sehingga Linux bebas di Copy digunakan dan di modifikasi tanpa harus membayar, sangat demokratis bukan ?

Latar belakang dibelakang pembuatan kernel Linux itu sendiri juga adalah peran MINIX yaitu operating system Unix yang ditujukan untuk penggunaan akedemis yang dirilis olehAndrew S. Tanenbaum(kok mirip marga di Nias .. Telembanua ada hubungan ya ….?) pada tahun 1987 dan Linus Torvalds membuat kernel Linux ini pada operating System MINIX yang notabene keluarga Unix.

Naaahh .. udah terjawab bukan hubungannya Linux dengan Unix ?

Pada tahun 1992 Linus Tovald menjelaskan lagi :

‘li’ dieja dengan bunyi [ee] pendek, ‘nux’ juga pendek, non-diftong, seperti dalam pUt. Linux hanya merupakan nama kerja untuk sesuatu, dan karena saya menulisnya untuk menggantikan minix di sistemku, hasilnya adalah apa adanya… linus’ minix menjadi linux.

Jadi sudah makin jelas hubungan antara Linux dengan Unix dan persaudaraan Linux dengan GNU. Sangkin eratnya hibunan dengan GNU,secara built-in Linux menyertakan compiler bahasa pemrograman C yaitu gcc yang merupakan singkatan dari GNU Compiler Collection.GCC menyediakan compilator bahasa C, C++ dan Java.

Kernel Linux itu sendiri di compile dengan gcc. Disamping itu di Linux juga tersedia beberapa GUI (Graphical User Interface) yaitu Xwindows (yang paling lawas) KDE ini bukan Kontes Dangdut Endonesia tetapi K Desktop Environment , juga tersedia GNOME yang merupakan singkatan dari GNU Object Model Environment.

Pada perakteknya kita hanya bias memilih salah satunya tergantung mana yang kita inginkan, sekali lagi Linux itu demokratis. Kita tidak boleh berselingkung memakai ketiganya sekali gus.

Salam dari Gunung Sitoli Nias

Ya’ahowu.

Distro Linux

Istilah Distro belakangan ini sudah semakin banyak dipakai, biasanya dikaitkan dengan produk busana ataupun pakaian, terutama pakaian “limited edition” edisi terbatas yang tidak akan atau jarang ada yang memiliki persamaandengan yang lainnya. Ini biasanya digandrungin oleh anak-anak remaja pecinta mode. Dan biasanya pemilik atau penyelenggara distro ini juga anak-anak muda kreatif.

Syukurlah bahwa bangsa ini masih memiliki anak-anak muda kreatif yang tak pernah berhenti berkarya dan menjauhkan image bahwa anak muda kota besar itu hanya bias bermalas-malasan dan hidup hanya dengan harta kekayaan orang tuanya dan tidak mandiri.

Dalam tulisan atau naskah atau omelan atau apapun namanya yang buat ini tidak ada hubungannya dengan mode, pakaian atau gaya hidup yang berhubungan dengan pakaian, walaupun saya menyebut kata-kata “Distro” dalam naskah ini.

Sebenarnya sebelum istilah Distro ini begitu popular di dunia mode yang limited edition ini, istilah Distro sudah dikenal di dunia “under ground operating system” Linux. Apa itu Linux ? nanti akan saya bahas di omelan berikutnya.

Pada operating system Linux dikenal ada berbagai aliran, mengapa ini terjadi ? Karena seperti diketahui Linux merupakan opering system yang sangat demokratis yang membolehkan penggunanya memilih gaya apa yang mereka inginkan dan menghargai semua pendapat para penggunanya, (Ini yang menarik bagi saya, seperti halnya tempat saya bekerja sekarang yaitu Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional – IFRC)disamping Linux merupakan “open source operating system” system operasi terbuka dimana para user atau penggunanya bebas mendapatkan “source code” sehingga kita bias memodifikasi operating system ini sesuai keinginan serta kebutuhan kita.

Hal inilah yang menyebabkan lahirnya distro-distro pada linux, Distro itu sebenarnya diturunkan dari kata distribusi (distribution).

Mengapa saya tertarik membahas distro Linux pada blog omelan saya ini ?

Begini ceritanya, Pada suatu ketika rekan-rekan kantor saya mengadakan acara pesta perpisahan “farewell party” buat office coordinator, ketika mereka membicarakan soal pacar, sesorang cewek menyebutin “tuuh pacaran sama Linux terus” , saya malah menjawab“siapa bilang ada tuuh si Fedora mau dikemanakan “. Lalu si cewe bilang “serius tuuh “saya jawab lagi “iyaPaling kalau saya bosan dengan si Fedora saya bisa pindah dengan si Debian atau si Mandriva”.Mereka tidak tahu kalau nama-nama yang saya sebutkan ituadalah nama-nama distro Linux yang entah mengapa dibuat seperti nama-nama cewek cakep. Padahal sebelumnya Fedora itu bernama “Red Hat” atau Mandriva itu bernama “Mandrake” (waaaah mirip Mandragate aja) dan Debian tetap mempertahankan namanya Debian. Dan ada juga Disto lain seperti SuSe dan Slackware.

Distro-distro yang saya sebutkan diatas merupakan Distro-distro besar dan papan atas di dunia Linux, sebenarnya ada lagi distro turunannya sebut saja Distro IGOS (Indonesia Go Open Source) yang merupakan distro Plat Merah yang disponsori Depkominfo untuk mengurahi pemakaian operating syatem bajakan di Indonesia. Distro IGOS ini sebenarnya diturunkan dari Fedora, Ketika IGOS pertama kali release saya pernah menjajalnya buat router sebuah Warnet di Medan. IGOS 1 ini diturunkan dari Fedora Core 3.Distro lain yang cukup popular sekarang adalah Ubuntu yang diturunkan dari distro Debian, Ubuntu ini merupakan project salah satu badan di United Nation (UN) yang bergerak dibidang kemanusiaan (humanitarian) keyika melakukan missi di Afrikasehingga nama Ubuntu itu sendiri di adopsi bahasa Afrika kuno yang berarti “Rasa kemanusiaan”.Distro lainnya yang dirancang untuk keperluan khusus seperti IPCOP yang dibuat hanya untu routing dan firewall Internet tanpa memasukkan aplikasi office dsb, kemudian dd-wrt yang biasanya ebedded padawireless router Linksys .

Bagaimana dengan perkembangan Distro Linux di Negara Indonesia tercinta ini ?

Seperti yang saya sebutkan diatas, ada distro yang resmi dikeluarkan pemerintah yang bernama IGOS kemudian sebelum itu yaitu “Trustix Merdeka” tapi sekarang nggak tahu kemana hilangnya distro ini. Kemudian ada ada lagi distro namanya “Pinux” distro ini dirancang untuk Warnetyang biasanya usernya kebanyakan familiar dengan operting system lain yang tertutup (ngertilaahapa yang saya maksud) dan konon kabarnya diilhami dari sweeping Warnet yang bernama Pointer di Semarang. Sayangnya terjadi saling klaim pembuat disto ini di sebuah miling list asosiasi warnet dan nggak terlihat lagi perkembangannya.

Kalau ditanya distro apa yang sering saya gunakan ?

Seperti yang saya sebutkan diatas tadi, saya sering menggunakan distro Fedora dan masih belum bias pindah kelain hati, walaupun sebenarnya ketika saya pertama kali mengenal Linux saya mulai dari distro Slackware versi 3, yang kala itu masih belum “plug and play” dengan kata lain masih “plug and pray”jadi begitu hardware dipasang kita harus berdoa dulu (pray) mudah-mudahan hardware tersebut terdeteksi oleh Linux dan tidak ada modus grafis. Untuk meng installnya saja harus membuat boot disk dulu (dengan floppy disk) dengan utility yang bernama rewrite. Sementara itu operating system lainnya sudah menggunakan modus grafis dansangat “user friendly”. Mungkin orang bilang “ Anda ini gila apa ? ada yang mudah kenapa cari yang sulit ?

Sabar duluuu .. jangan marah dulu doong ..,Mengapa saya pilih Linux karena ketika itu saya keranjingan “Radio Paket” – ORARI yang saya mulai dengan software FBB kebudian NOS KA9Q , perlu diketahui saat itu belum ada internet masih jamannya BBS (Buletin Board Service) dimana semua organisasi masih menyediakan BBS sendiri secara dial up seperti Duta besar Amerika – di Jakarta. Sementara saya mengenal internet pertama kali dengan mengakses langsung American Online (AOL) menggunakan browser Moziila (yang asli lhoo.. bukan firefox) melalui PT Indosat, kembali ke Laptop ..eh Linux, Saya mengenal istilah Linux dari Pak Onno Widodo Purbo ketika itu beliau masih mengajar di ITB Bandung dengan CNRG nya, ketika itu saya minta konfirmasi mengenai NOS KA9Q yang sudah mereka kembangkan, Pak Onno malah menjawab mereka tidak pakai NOS KA9Q lagi tetapi pakai Linux, saya malah balik bertanya apa itu Linux, kemudian Pak Onno menjawab Linux itu keluarganya Unix (Unix dikenal sebagai operating system untuk mainframe ketika itu yang dikembangkan oleh AT and T –zul) tapi jalan di PC. Naah kebetulan sekali saat itu saya mengenal SCO Unix yang bias running di PC dan ketika itu saya kebetulan sebagai system engineer untuk sebuah Bank Pemerintah dan sebuahinstansi pemerintah dibawah departemen keuangan yang juga pengguna SCO Unix. Hanya saja problemnya mengapa saya tidak memilih SCO Unix padahal Installer originalnya ada ada pada saya.

Seperti yang dikatakan Pak Onno, SCO Unix disamping mahal tidak mendukung protocol AX 25 yang menjalankan radio paket.

Udah dulu …. Makin ngelantur … ntar bulan blog lagi namanyasudah bias diterbitkan jadi buku.

Salam dari Gunung Sitoli Nias

Ya’ahowu moroi ba tano Niha

Lambang-lambang Perlindungan

redcross.jpg Apa yang anda bayangkan jika melihat gambar disebelah kiri ?

Mungkin anda akan terbayang tentang paramedis professional dengan seragam putih nya, atau perawat dirumah sakit ataupun pak dokter yang sedang bekerja dirumah sakit.

Beberapa tahun yang lalu saya juga membayangkan hal seperti diatas, karena lambang tersebut selalu digunakan oleh kepentingan Medis.

Namun apa sebenarnya kisah dibalik lambang tersebut ?
Latar belakang lambang tersebut memang tidak jauh dari kisah pertolongan medis, tetapi bukan oleh para professional yang dibayar mahal melainkan oleh para sukarelawan (volunteer).

Pada tahun 1862 Henry Dunnant yang kemudian dikenal sebagai Bapak Palang Merah dunia, menulis sebuah buku yang berjudul “Memory of Solferino” yaitu kisah pertempuran berdarah di kota Solferino sebelah Utara Italia . Dalam buku tersebut Henry Dunnant menuangkan dua gagasan yaitu :

  1. Membentuk Organisasi Sukarelawan yang disiapkan menolong korban perang.
  2. Membuat perjanjian untuk melindungi korban perang serta melindungi para relawan yang membantu dinas kesehatan militer.

Untuk melaksanakan gagasannya dibentuklah komite lima pada tanggal 9 Februari 1863 yang terdiri dari :

  1. Gustave Moynier Seorang Pengacara, Ketua “Mayarakat Jenewa untuk keselamatan umum - Geneva Society for public welfare”
  2. dr Lois Appia Ahli bedah merupakan teman dari Theodore Maunoir
  3. dr Theodore Maunoir dari “Geneva Hygiene and Health Commision”
  4. Jend. Gullame – Henry Dufour Seorang jendral terkenal dari “Swiss Army”
  5. Henry Dunnant

Sebagai hasil kerja dari komite 5 ini terbentuklah Komite Internasional untuk bantuan para tentara yang cedera pada tanggal 17 Februari tahun 1863 yang merupakan

cikal bakal lahirnya Komite Internasional Palang Merah Comite intenational Geneve pada tanggal 29 oktober tahun 1863 yang lahir dari sebuah konfrensi di Jenewa konfrensi itu juga melahirkan resolusi yaitu

  1. Yayasan nasional untuk pertolongan tentara yang luka
  2. Netralitas dan perlindungan bagi tentara yang cedera.
  3. Penggunaan kekuatan sukarelawan untuk bantuan pertolomgan di medan tempur
  4. Menetapkan konsep ini dalam suatu perjanjian internasional
  5. Mengawali penggunaan lambang-lambang perlidungan untuk personel Medis dilapangan yaitu Gelang putih bersulam Palang Merah.

Lantas mengapa lambangnya Palang Merah ?

swiss-flag.gifDulu sebelum bertugas Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah , saya pernah berpikir kalau lambang palang merah itu merupakan simbol perawatan luka akibat cedera, Karena warnanya merah saya beranggapan itu merupakan symbol darah dan kain kassa,.

Benarkah demikian ?

Ternyata saya keliru, Lambang palang Merah di adopsi dari bentuk dan simbol bendera Swiss yang berlatar belakang merah dan terdapat palang putih, jadi Lambang palang merah tersebut merupakan kebalikan bendera Swiss dimana Palangnya dibuat Merah dan latar belakangnya putih.

Beruntung saya sebelum bekerja di Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional (IFRC) saya bekerja di salah satu NGO milik Swiss yaitu Caritas Switzerland sehingga saya hapal betul bentuk bendera Swiss ini.
Tentunya ada pertanyaan lain yang mengganjal, mengapa lambangnya diilhami dari bendera Swiss (Switzerland) bukannya lambing bendera amerika yang Adhi Kuasa (super power) itu ?

Seperti yang telah saya sebutkan tadi bahwa pelaku-pelaku yang membidani lahirnya Palang Merah itu adalah warga Negara Switzerland alias Swiss, jadi wajarlah sebagai penghargaan dipilih lambang bendera Swiss.
Lantas mengapa lambang nya kebalikan bendera Swiss. Sesuai dengan prisipnya bahwa palang merah itu netral dan tidak memihak ke Negara manapun jadi tidak berafiliasi ke satu Negara.

red-cresc.jpg
Selain lambang Palang merah, pada tahun 1876 ketika terjadi perang Balkan (perang Russo – Turki), kerajaan Ottoman (Turki) mengajukan lambing Bulan Sabit Merah untuk perhimpunan sukarelawan mereka.
Karena pemerintah kerajaan Ottoman percaya bahwa tanda palang akan dijauhi tentara muslim mereka. Pada tahun 1877 Rusia menyatakan kepada ICRC bahwa mereka menghormati ke netralan dari Bulan Sabit merah dan sebaliknya pemerintah kerajaan Ottoman juga menghormati Palang Merah.
Dan pada tahun 1878 ICRC menyatakan bahwa lambang Bulan sabit merah dapat di adopsi sebagai lambang perlindungan pada Negara-negara muslim. Secara resmi lambang Bulan sabit merah diakui pada tahun 1929 pada saat konfensi Jenewa yang mengamandemen Artikel 19.
Lambang bulan sabit Merah ini pada umumnya digunakan pada Negara-negara yang populasinya mayoritas Muslim seperti Pakistan (1974), Malaysia (1975) dan Bangladesh (1989) kecuali Indonesia tentunya.