Distro Linux

Istilah Distro belakangan ini sudah semakin banyak dipakai, biasanya dikaitkan dengan produk busana ataupun pakaian, terutama pakaian “limited edition” edisi terbatas yang tidak akan atau jarang ada yang memiliki persamaandengan yang lainnya. Ini biasanya digandrungin oleh anak-anak remaja pecinta mode. Dan biasanya pemilik atau penyelenggara distro ini juga anak-anak muda kreatif.

Syukurlah bahwa bangsa ini masih memiliki anak-anak muda kreatif yang tak pernah berhenti berkarya dan menjauhkan image bahwa anak muda kota besar itu hanya bias bermalas-malasan dan hidup hanya dengan harta kekayaan orang tuanya dan tidak mandiri.

Dalam tulisan atau naskah atau omelan atau apapun namanya yang buat ini tidak ada hubungannya dengan mode, pakaian atau gaya hidup yang berhubungan dengan pakaian, walaupun saya menyebut kata-kata “Distro” dalam naskah ini.

Sebenarnya sebelum istilah Distro ini begitu popular di dunia mode yang limited edition ini, istilah Distro sudah dikenal di dunia “under ground operating system” Linux. Apa itu Linux ? nanti akan saya bahas di omelan berikutnya.

Pada operating system Linux dikenal ada berbagai aliran, mengapa ini terjadi ? Karena seperti diketahui Linux merupakan opering system yang sangat demokratis yang membolehkan penggunanya memilih gaya apa yang mereka inginkan dan menghargai semua pendapat para penggunanya, (Ini yang menarik bagi saya, seperti halnya tempat saya bekerja sekarang yaitu Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional – IFRC)disamping Linux merupakan “open source operating system” system operasi terbuka dimana para user atau penggunanya bebas mendapatkan “source code” sehingga kita bias memodifikasi operating system ini sesuai keinginan serta kebutuhan kita.

Hal inilah yang menyebabkan lahirnya distro-distro pada linux, Distro itu sebenarnya diturunkan dari kata distribusi (distribution).

Mengapa saya tertarik membahas distro Linux pada blog omelan saya ini ?

Begini ceritanya, Pada suatu ketika rekan-rekan kantor saya mengadakan acara pesta perpisahan “farewell party” buat office coordinator, ketika mereka membicarakan soal pacar, sesorang cewek menyebutin “tuuh pacaran sama Linux terus” , saya malah menjawab“siapa bilang ada tuuh si Fedora mau dikemanakan “. Lalu si cewe bilang “serius tuuh “saya jawab lagi “iyaPaling kalau saya bosan dengan si Fedora saya bisa pindah dengan si Debian atau si Mandriva”.Mereka tidak tahu kalau nama-nama yang saya sebutkan ituadalah nama-nama distro Linux yang entah mengapa dibuat seperti nama-nama cewek cakep. Padahal sebelumnya Fedora itu bernama “Red Hat” atau Mandriva itu bernama “Mandrake” (waaaah mirip Mandragate aja) dan Debian tetap mempertahankan namanya Debian. Dan ada juga Disto lain seperti SuSe dan Slackware.

Distro-distro yang saya sebutkan diatas merupakan Distro-distro besar dan papan atas di dunia Linux, sebenarnya ada lagi distro turunannya sebut saja Distro IGOS (Indonesia Go Open Source) yang merupakan distro Plat Merah yang disponsori Depkominfo untuk mengurahi pemakaian operating syatem bajakan di Indonesia. Distro IGOS ini sebenarnya diturunkan dari Fedora, Ketika IGOS pertama kali release saya pernah menjajalnya buat router sebuah Warnet di Medan. IGOS 1 ini diturunkan dari Fedora Core 3.Distro lain yang cukup popular sekarang adalah Ubuntu yang diturunkan dari distro Debian, Ubuntu ini merupakan project salah satu badan di United Nation (UN) yang bergerak dibidang kemanusiaan (humanitarian) keyika melakukan missi di Afrikasehingga nama Ubuntu itu sendiri di adopsi bahasa Afrika kuno yang berarti “Rasa kemanusiaan”.Distro lainnya yang dirancang untuk keperluan khusus seperti IPCOP yang dibuat hanya untu routing dan firewall Internet tanpa memasukkan aplikasi office dsb, kemudian dd-wrt yang biasanya ebedded padawireless router Linksys .

Bagaimana dengan perkembangan Distro Linux di Negara Indonesia tercinta ini ?

Seperti yang saya sebutkan diatas, ada distro yang resmi dikeluarkan pemerintah yang bernama IGOS kemudian sebelum itu yaitu “Trustix Merdeka” tapi sekarang nggak tahu kemana hilangnya distro ini. Kemudian ada ada lagi distro namanya “Pinux” distro ini dirancang untuk Warnetyang biasanya usernya kebanyakan familiar dengan operting system lain yang tertutup (ngertilaahapa yang saya maksud) dan konon kabarnya diilhami dari sweeping Warnet yang bernama Pointer di Semarang. Sayangnya terjadi saling klaim pembuat disto ini di sebuah miling list asosiasi warnet dan nggak terlihat lagi perkembangannya.

Kalau ditanya distro apa yang sering saya gunakan ?

Seperti yang saya sebutkan diatas tadi, saya sering menggunakan distro Fedora dan masih belum bias pindah kelain hati, walaupun sebenarnya ketika saya pertama kali mengenal Linux saya mulai dari distro Slackware versi 3, yang kala itu masih belum “plug and play” dengan kata lain masih “plug and pray”jadi begitu hardware dipasang kita harus berdoa dulu (pray) mudah-mudahan hardware tersebut terdeteksi oleh Linux dan tidak ada modus grafis. Untuk meng installnya saja harus membuat boot disk dulu (dengan floppy disk) dengan utility yang bernama rewrite. Sementara itu operating system lainnya sudah menggunakan modus grafis dansangat “user friendly”. Mungkin orang bilang “ Anda ini gila apa ? ada yang mudah kenapa cari yang sulit ?

Sabar duluuu .. jangan marah dulu doong ..,Mengapa saya pilih Linux karena ketika itu saya keranjingan “Radio Paket” – ORARI yang saya mulai dengan software FBB kebudian NOS KA9Q , perlu diketahui saat itu belum ada internet masih jamannya BBS (Buletin Board Service) dimana semua organisasi masih menyediakan BBS sendiri secara dial up seperti Duta besar Amerika – di Jakarta. Sementara saya mengenal internet pertama kali dengan mengakses langsung American Online (AOL) menggunakan browser Moziila (yang asli lhoo.. bukan firefox) melalui PT Indosat, kembali ke Laptop ..eh Linux, Saya mengenal istilah Linux dari Pak Onno Widodo Purbo ketika itu beliau masih mengajar di ITB Bandung dengan CNRG nya, ketika itu saya minta konfirmasi mengenai NOS KA9Q yang sudah mereka kembangkan, Pak Onno malah menjawab mereka tidak pakai NOS KA9Q lagi tetapi pakai Linux, saya malah balik bertanya apa itu Linux, kemudian Pak Onno menjawab Linux itu keluarganya Unix (Unix dikenal sebagai operating system untuk mainframe ketika itu yang dikembangkan oleh AT and T –zul) tapi jalan di PC. Naah kebetulan sekali saat itu saya mengenal SCO Unix yang bias running di PC dan ketika itu saya kebetulan sebagai system engineer untuk sebuah Bank Pemerintah dan sebuahinstansi pemerintah dibawah departemen keuangan yang juga pengguna SCO Unix. Hanya saja problemnya mengapa saya tidak memilih SCO Unix padahal Installer originalnya ada ada pada saya.

Seperti yang dikatakan Pak Onno, SCO Unix disamping mahal tidak mendukung protocol AX 25 yang menjalankan radio paket.

Udah dulu …. Makin ngelantur … ntar bulan blog lagi namanyasudah bias diterbitkan jadi buku.

Salam dari Gunung Sitoli Nias

Ya’ahowu moroi ba tano Niha



Leave a Comment