Selamat Datang Website Instant

Sungguh bahagia hidup di zaman instant seperti sekarang ini, mulai dari mie instant sampa segala-gala yang instant lainnya. Saya masih ingat ketika saya pertama kali mengenal produk instant sebut sajalah namanya mie instant. Produk mie instant saya kenal pertama kali ketika saya bertandang ke tempat teman saya. Kejadiannya ketika itu saya masih kanak-kanak tentunya. Ketika itu sang teman saya yang bocah itu hanya dengan memasak air panas dan mengeluarkan mie isntand dengan atribut nya jadilah mie yang beraroma cukup menggiurkan selanjutnya menghidangkannya kepada saya sehingga kamipun menikmatinya bersama-sama. Kala itu, saya ingat betapa susahnya ibu saya membuat mie rebus dengan memasaknya hampir atau bahkan lebih dari satu jam dan dengan bumbu-bumbu yang tidak bisa saya mengerti itu. Sementara teman saya yang bocah itu, hanya memasaknya kurang dari 5 menit, sungguh luar biasa mie instant itu. Mengapa saya mengenal produk instant justru di rumah tetangga saya ? Bukannya di rumah sendiri ? Itu terjadi karena ibu saya, kurang atau bahkan tidak dapat menerima produk instant, Ibu saya yang dikenal jago masak itu hanya percaya pada kemapuannya sendiri dalam seni mengolah makanan. Sifat seperti ini mungkin menurun kepada saya yang awalnya kurang menerima produk instant.

Berbicara soal Instant saya juga ingat dengan salah seorang teman baik saya ketika masih bekerja di NGO Caritas Switzerland, hanya dengan berkenalan 3 hari dengan seorang perempuan (maaf saya tidak tahu menulis mana yang lebih baik antara perempuan dan wanita) dia sudah langsung melaksanakan pernikahan, sementara ada teman saya yang lain sudah pacaran 5 tahun belum nikah juga. Begitu instant bukan, rupanya instant juga tidak hanya pada urusan mie saja..

Dalam percaturan dunia perinternetan, juga terkena wabah instant ini.Contohnya saja dalam hal pembuatan website.Ketika masih banyak web statik, yang dibuat dengan bahasa pemrograman seperti C juga ditambah PERL dilanjutkan dengan skrip Hyper Text markup language (HTML), seorang teman harus merelakan waktu istirahat tidur malamnya hanya untuk melakukan updating situs sebuah surat kabar harian di Medan, terkadang hingga pagi belum juga selesai updating berita online nya. Untuk melakukan updating teman saya tersebut paling tidak atau wajib hukumnya menguasai bahasa script HTML atau supaya lebih menarik ditambah java script.

Apa yang terjadi saat ini ? Dengan kehadiran software CMS (Content Management System) seperti Mambo yang diteruskan ke Joomla atau Wordpress, updating situs tidak perlu dilakukan berjam-jam dan bahkan tidak memerlukan keahlian dalam menulis skrip HTML ataupun Cascading Style Sheet (CSS), jangankan mengetahui perintah-perintah TAG dari HTML maupun CSS, mengetahui nama HTML sajajelas nggak perlu.

Seseorang dapat langsung melakukan updating dengan meng upload text file atau mengetikkannya tanpa harus tahu perintah HTML.Dunia Blog pun menjamur, seseorang juga bias menulis di website untuk menyalurkan hobbynya menulis yang mungkin tidak tertampung di media lain seperti suratkabar atau majalah. Demikian juga dengan saya, bebas ngomel-ngomel dan ngoceh panjang lebar di blog ini hanya dengan menulis kata-kata tanpa perlu memikirkan disain atau skripnya.

Apa jadinya media online seperti detik.com tanpa kehadiran CMS, media online seperti detik.com yang menuntut update dalam orde menit. Pasti kelabakan itu web masternya. Dengan adanya CMS sang wartawan bias langsung meng update beritanya ke website, itu bias dilakukan langsung dari lapangan, bias melalui telepon selluler seperti yang saya lakukan ketika cuti untuk mengontrol server di kantor di Gunung Sitoli Nias.

Sang webmaster hanya mendisain template webnya saja, sementara isinya atau content nya diserahkan ke masing-masing user yang diberi wewenamg untuk melakukan update seperti wartawan.

Yang lebih menarik adalah pada umumnya software CMS ini adalah open source dan shareware bahkan freeware sehingga tidak perlu membayar untuk meng installnya seperti Joomla dan Wordpress. Bahkan distro Linux seperti Fedora telah memasukkan Wordpress pada CD installer nya sehingga para pecinta Fedora Core tidak perlu repot-repot men-downloadnya.

Apakah hal ini akan mengancam profesi para webmaster dengan kehadiran CMS yang gratis tis tis dan mudah itu ? Jawabannya bias yabias juga tidak.

Para webmaster professional harus memutar otaknya mencari innovasi baru yang mungkin tidak dapat dilakukan oleh CMS ini,

Saya ingat ketika salah satu website pemerintah daerah diluncurkan (kali ini saya nggak mau menyebut namanya – soalnya sensitive) website itu dibuat dengan anggaran cukup tinggi dan menggiurkan, website selai dan terpajang dengan indahnya. Ketika saya coba menbuka skripnya ternyata sang web master lupa membuang identitas Joomla yang melekat pada skrip itu.Saya pun tertawa dan dalam hati mengucapkan selamat atas keberuntungan sang perusahaan pembuat situs yang mahal itu tapi dikerjakan dengan software CMS gratis Joomla.

Dibalik kemudahan CMS ini ada orang dibelakang layer yaitu system administrator yang harus meng install software tersebut di server tempat web akan di hosting.

Untuk melakukan instalasi software Joomla itu paling tidak system administrator harus menginstall Webserver seperti Apache, juga prehyper text seperti PHP berikut libraryzlibnya, atau XML nya juga diharuskan menginstall Database server seperti Mysql.

Kita juga harus menghormati kerja keras para system administrator ini yang membuatnya makan hanya 3 kali sehari dari tidur paling tidak 8 jam sehari demi mengkonfigurasi CMS ini agar dapat berjalan di Web servernya sehingga dapat digunan oleh usernya terutama oleh Bloger kecil-kecilan seperti saya sekarang ini. Tapi saya yakin, jika pada saat presiden Sukarno dulu hidup dan berkuasa sudah ada CMS, Pastilah presiden Sukarno adalah seorang bloger sehingga presiden Sukarno tanpa harus susah-susah menulis buku Sarinah, Dibawah bendera revolusi atau bahkan Konsep-konsep Marhaen nya,Beliau cukup membuat blog yang akan dibaca oleh rakyat dan lawan-lawan politiknya.

Rupanya tidak hanya CMS aja yang instant, skrip-skrip website instant juga bertebaran di Internet, sehingga banyak blog atau web semacam friendster tampil begitu indah dan menariknya hanya dengan “copy” dan kemudian “paste”, Pernah suatu ketika saya bertanya pada pelaku instant ini, apakah dia mengerti apa maksudnya perintah yang dia lakukan itu, ternyata sang pelaku tersebut mengatakan dia tidak mengerti apa maksud perintah tersebut. Kita bias berpikir sebenarnya ini bias sebagai pisau bermata dua, bias membuat orang pintar dengan mempelajari maksud skrip tersebut dan bias juga membuat orang malas karena cukup gampang dan bias mencari skrip lain.

Masih perlukah kita mempelajari HTML atau CSS jika semuanya sudah instant ?

Menurut saya masih perlu, karena tidak semua web hosting menyediakan fasilitas CMS terutama untuk Web hosting gratisan. Mungkin pada system administratornya berpikir mana ada yang gratis tapi enak. Jadi untuk kasus seperti ini para webmaster yang memiliki ilmu HTML dan CSS bias berbangga hati .

Selamat Berkarya dan tetap semangat.

Salam dari Gunung Sitoli Nias

Ya’ahowu



Leave a Comment